Stay-at-home Mom, pastinya ngga akan setuju kalo ngurus anak itu gampang…

December 29th, 2009

Kalau ada yang bilang ngurus anak itu gampang, saya yakin seyakin-yakinnya dia ga 100% turun tangan ngurus anak sendirian. Wong saya yang masih dapet “kemewahan” mendapatkan support system yang lebih dari 1 orang aja (suami, pembantu dan kadang-kadang mertua or nyokap), seringkali merasakan perlunya “kabur sejenak” dari rutinitas menyuapi anak yang makannya mood-moodan (kadang mau, kadang ga sama sekali), runititas ngebujukin anak supaya mau mandi (yang ngebujuknya dari jam 1/2 8 pagi, baru berhasil jam 1/2 12 siang), sampe rutinitas berargumentasi dengan anak yang lagi memuja jawaban default “NGGAK!”

Ini saya lho, yang anaknya baru semata wayang. Ga lagi yang anaknya udah dua, tiga bahkan lebih. Wow. WOW.

Working mom yang kerja 9 to 5 sekalipun, saya rasa tetap akan menghadapi masalah-masalah di atas, mungkin dengan frekuensi yang lebih jarang, meski secara kualitas belum tentu berkurang. (BTW saya baru saja membaca buku soal parenting yang salah satunya menyebutkan habit anak yang kadang throwing tantrum justru pada orangtuanya yang baru pulang kantor, padahal sepanjang hari dia berlaku manis pada baby-sitter dan pengasuhnya. Dan justru katanya itu karena si anak merasa secure dengan orangtuanya, istilahnya sih yang tadinya mesti basa-basi dan behave di depan pengasuhnya, sekarang ketemu ama orangtuanya, bisa ceplas-ceplos sebebas-bebasnya)

Stay-at-home Mom, dituntut mesti pintar

Makanya kita, para ibu di rumah, harus terus-menerus rajin men-sugesti diri sendiri, bahwa “ngga ngantor” ga berarti “kalah”. Kalau Anda pernah membaca posting-posting saya sebelumnya, pasti Anda tau sekali kalau saya paling sensitif dengan pertanyaan: “Kerja dimana?” dan bahwa saya sedang men-challenge diri saya sendiri untuk bangga dengan menjawab, “Ga ngantor. Saya ibu rumah tangga,”

Lepas dari kenyataan bahwa sebetulnya jam kerja saya di rumah sama saja dengan jam orang kantoran, saya rasa itu hal terbaik untuk melatih saya soal kerendahan hati :)

Terrible-two yang lagi melanda anak saya saat ini bikin saya sadar banget pentingnya seorang Mom untuk pintar. Setidaknya pintar menata emosi. Pintar mencari celah untuk membujuk. Pintar berargumentasi. Pintar mencari alasan yang make-sense buat anak di usianya. Pintar menghadapi beragam karakter anak yang berbeda dengan karakter-karakter yang selama ini kita hadapi sehari-hari. Loh kok jadi banyak?

Kadang lebih gampang menghadapi rekan kerja di kantor yang super nyebelin daripada anak sendiri. Setidaknya dengan rekan kerja kita bisa konfront, berantem kalo perlu. Lha dengan anak yang usianya ga ada 1/10 usia kita? Kalau kita lepas kontrol, kita kalah. Dan jelas ga gampang menahan diri kalau orang yang paling banyak ngabisin waktu ngurusin dan ngeladenin dia, justru jadi orang yang paling dilawan oleh si anak.

Pintar versi Anda?

Saya mencoba menjadi lebih pintar dengan membaca buku-buku parenting, meski banyak yang bilang “Makan tu teori!!!” (dan kadang-kadang dalam banyak hal saya juga menyetujuinya ^^) At least saya tahu bahwa bukan saya sendiri yang menghadapi masalah-masalah menyebalkan itu (kalau ga, ga bakalan ditulis berkali-kali dengan topik-topik serupa… ya kan?) Saya mencoba menjadi lebih pintar dengan menarik napas dan menghitung sampai sepuluh, kalau anak saya “kumat” :) Saya mencoba menjadi lebih pintar dengan memikirkan bujukan-bujukan yang kiranya masuk akal buat dia, dan tingkat keberhasilannya? Jelas ga semutlak angka-angka perhitungan rumus di Excel. Persentase keberhasilannya ga pernah tetap. Hari ini bisa 100%, besok bisa 10% bahkan 0%.

And you know what? Saya belajar satu hal: NEVER UNDERESTIMATE PEOPLE. Mbak saya yang cuma lulusan SMP, yang umurnya baru 17 tahun itu, kadang malah lebih sukses membujuk anak saya membuka mulutnya lebar-lebar untuk sikat gigi, atau berhasil memandikan anak saya tanpa tragedi jeritan yang nyampe ke tetangga seberang rumah. Dan saya yang lulusan S1 arsitektur universitas yang katanya ternama dan paling bagus se-Asia Tenggara ini? Kalah telak! Hahaha…