Monika Tanu, web designer bawel ^^

January 21st, 2008

Orang bilang saya web designer bawel *grin*

Di saat web designer lain ditanya harga langsung bisa menjawab, saya minta orang mengisi questionairre dulu sebelum bisa keluar dengan sejumlah angka. Di saat web designer lain dimintai jaminan langsung bisa menanggapi dengan janji “seminggu jadi” atau “kalau ga suka desainnya akan direvisi sampe cocok”, saya sibuk dengan kalimat preventif yang mengedepankan semua risiko jelek yang seringkali bikin sang calon client hengkang mundur sebelum berperang :D

Kenapa?

Saya ga mau orang yang udah make jasa saya kecewa. Dan batasan kecewa itu makin lama makin menganaktirikan para penjual jasa — termasuk kami para tukang bikin web — dengan tingginya harapan dan tuntutan client yang ditunjang oleh semakin bertebarannya penyedia jasa murah meriah. So seringkali saya memilih mundur daripada akhirnya ditekan untuk mengiyakan hal-hal yang buat saya ga mungkin.

Tanpa bermaksud mengolok-olok, chat dengan seorang teman kemarin ini menghasilkan statement yang lagi-lagi bikin saya meringis… “Kalo saya, bayar lay-out blog saya Rp 400.000,” …hmmm, oke lah. Mungkin orangnya kepepet BU. Lanjutannya bikin pilu hati, “Mahal banget!!!” Bisa pingsan kali dia kalo saya sodori package list saya & tim saya :D

“Apa bedanya harga kamu dengan harga orang lain? Saya dapet dua penawaran dengan spec serupa, dapetnya setengah harga kamu.”

“Kok mahal banget sih? Web kaya gini doang,”

Dan seterusnya, dan seterusnya.

Ini tidak saya maksudkan sebagai keluhan. (saya pernah posting hal serupa di sebuah milis desain dan ditanggapi asem ama para senior, “Udah, lu jangan ngeluh aja. Terima kenyataan dan maju terus,”) Just share hal-hal yang mungkin bisa bikin kita meringis bersama :D

Pengalaman yang sudah-sudah akhirnya menempatkan saya pada posisi seperti sekarang:

1. Ga berani mengumbar janji yang dirasa ga mungkin

…kalo ga suka ama desainnya maka akan direvisi sampe cocok? Waduh… bisa-bisa tu proyek ga kelar-kelar, apalagi kalo model clientnya nge-blank alias belum tau maunya apa, dan lebih parah lagi — PLIN-PLAN! Hari ini oke dengan mockup yang kita kirim, besokan hari browsing-browsing tempat lain dan mendadak punya ide gemilang yang beda 180 derajat ama desain sebelumnya. Iya kalo dia bisa menjelaskan ga sukanya dimana, yang kebanyakan saya temui sih cuma sebates, “Pokonya saya ga suka! Masa saya udah bayar terus saya harus pake desain yang saya ga suka?”

Tentu akan direvisi — siapa bisa mengira dalamnya hati manusia? Kan ada pepatah hati manusia sedalam samudra, beda kepala beda isi dan yang jelas: BEDA SELERA. Tapi tentunya perlu ada komunikasi yang jelas antar kedua-belah pihak, bukan sekedar complain yang akhirnya tidak berujung pada solusi.

2. Ga berani menjamin web akan kelar dalam hitungan waktu tertentu

Dari pengalaman, biasanya web masih jadi anak tiri. Banyak anak kandung seperti jadwal launch produk baru dan deadline pencetakan katalog yang akan menunda approval sebuah mockup web. Di awal sang client bilang bahwa dia butuh web itu launch bulan ini juga (dan kalau diajukan waktu pengerjaan diluar timeline, akan dijadikan alasan menekan quotation saya), pada pelaksanaannya materi baru dikasi lengkap sebulan sesudahnya. Boro-boro webnya bisa launch bulan itu.

Giliran saya kejar-kejar approval designnya, saya dapet tanggapan mulai dari, “Monik harus ngerti, kita harus tunggu boss kita oke dulu.” Kemanakah beliau? “Lagi keluar negri, belum tau pulangnya kapan,” sampai, “Emangnya kita cuma ngurusin web doang? Ditunggu aja deh! Toh kita udah bayar DP!” (It’s not about the money bo… it’s about how fast we could jump to the next project without ignoring yours! Lagi-lagi pengalaman yang sudah-sudah, kalau dari client akhirnyaaaaaaa materi lengkap, kita yang dipaksa ngelarin sesegera mungkin tanpa peduli proyek lain yang sedang sama-sama berjalan ^^)

Web dengan spesifikasi yang sama bisa kelar dalam waktu sebulan sampai 3 tahun, tergantung seberapa cepat sang client bisa mengapprove semua pekerjaan saya dan seberapa sibuk mereka dengan proyek lainnya (yang membuat website berada di prioritas paling bontot).

Pengalaman lainnya?

Ada juga yang kocak. “Saya mau hire kamu tapi saya ga suka semua portfolio kamu.” :o Lha, terus? “Kamu bikin aja yang stylenya beda, jangan itu-itu doang. Standar,” Gimana caranya saya membuat sesuatu yang bukan saya, yang saya sendiri ga tau batesan bagus-jeleknya dimana?

Nah, membaca posting saya ini — yang kalau ga dipaksa selesai sampai disini akan terus memanjang — tentunya udah bisa ngasi gambaran seperti apakah manusia bernama Monika Tanu ini… bawel!!!