Temen ya temen, bisnis ya bisnis… kok dicampur?

March 12th, 2008

MLM (Multi-Level-Marketing) meninggalkan kesan jelek buat saya, terlebih ketika beberapa tahun lampau (jaman saya masih polos-polosnya), saya “terjebak” oleh seorang kawan lama yang saya anggep kakak sendiri. Senang sekali mendapati nomor telpon dia di HP, lama ga berkirim kabar. Dia ajak saya ketemuan sekalian ngobrol soal ‘prospek bisnis luar biasa’ (kata-kata yang sekarang definitely saya hindari ^^), yang tanpa curiga sedikitpun saya sanggupi dengan antusias.

Dalam bayangan saya, kami akan ngobrol panjang-lebar seperti dulu. Seperti teman lama, seperti kakak-adik. Karena dia bilang boleh ajak temen, saya ajak sahabat saya yang lagi ada di Jakarta untuk ikut bergabung. Sebetulnya sahabat saya ini sudah warning, “Errr… bukan bisnis yang mesti nyari downline-an gitu kan?” Dengan yakin saya bilang, “Ga mungkin lah! Saya tau banget temen saya, dia ga akan terpancing model bisnis yang itu,” How naive I was. Dalam bayangan saya, obrolan soal bisnis yang dia bilang prospek luar biasa itu nomer dua… yang penting kita bisa ketemu lagi setelah sekian lama.

Alhasil, terduduklah saya di sebuah seminar yang mengharuskan saya bayar Rp sekian-sekian (saya lupa berapa persisnya) Padahal siapa juga yang mau dateng ke seminar itu? Kok tau-tau ditodong ikutan? Bayar, pula. Duduk di antara orang-orang yang terpaku tak bergeming oleh penjelasan si pembicara, saya masih berpikiran positif… waduh, temen saya *yang ngakunya diajak temennya juga* pastinya kaget tau-tau terjebak di acara beginian.

Klimaks tercapai ketika akhirnya temen saya itu diundang maju ke panggung sebagai salah satu diamond or berlian or anything lah, yang sedang mendaki anak tangga pada masa depan nan cerah cemerlang! (oops sorry, now I am being sarcastic ^^) Dan detik itu juga saya tahu bahwa di mata teman saya itu, saya hanyalah sebuah prospek bisnis, uang berjalan (bernapas, berbicara, makan dan minum) yang akan menghasilkan rupiah bagi dirinya.

Sejak saat itu saya ga suka yang namanya MLM.

Saya ga bilang bisnis ini sucks, saya tahu banyak yang berhasil meraup miliaran rupiah (bahkan salah satu temen saya katanya berhasil dapet Mercy dan BMW dari bisnis ini dan salah satu om saya juga udah dapet passive income setiap bulannya), but… simply, the business is not for me. Dan saya ga akan bisa disuru jualan sesuatu yang “bukan saya”.

Mungkin saya salah satu manusia yang beruntung, ga usah mencampur-adukkan bisnis dengan teman, lantaran saya nyaris ga pernah dapet proyekan dari temen (hey, I told you the truth!) Jadi kalau saya ngontak temen, totally karena saya mendadak inget dia dan kangen lama ga bersua. Bukan karena saya lagi bokek dan butuh supply-an rupiah dalam bentuk proyek, downline, client dan sejenisnya.

Yang saya sayangkan cuma satu: kenapa pertemanan dan bisnis dicampur? Temen ya temen, bisnis ya bisnis…