Bisnis dari rumah untuk para wanita dan ibu pada umumnya

April 4th, 2008

Ngebahas soal bisnis dari rumah sama menariknya dengan rumpian soal standar gaji Pembantu Rumah Tangga yang baru-baru ini saya posting summary-nya. Terlebih karena saya seorang wanita, seorang istri, seorang ibu. Kabarnya, bekerja dari rumah adalah impian banyak perempuan, apalagi kalau sudah diberkati dengan role yang terakhir itu.

Saya sendiri ga sadar kapan pertama saya bisa terdampar di belantara bekerja dari rumah ini. Bisa kerja kantoran adalah impian saya semasa kuliah dulu. Saya ingin jadi karyawan di sebuah bangunan pencakar langit yang megah dengan lantai marmer berkilauan, saya ingin pake blazer dan terlihat keren seperti foto-foto figur wanita karir di majalah-majalah wanita yang disebut sebagai penyandang fun fearless female, saya ingin meraih posisi setinggi-tingginya di kantor.

Kalo Robert Kiyosaki denger, saya bisa diketawain. Cita-cita kok jadi karyawan. Cita-cita mbok yao jadi kaya, gituh.

Posting ini saya tulis saking banyaknya indikasi kehebohan moms yang semakin aktif berjualan di dunia internet. Jualan lewat milis? Biasa. Multiply? Mulai biasa juga. Saya sempet liat guestbook salah satu teman yang isinya penuh promosi orang. Setau saya guestbook diperuntukkan bagi visitor untuk mengomentari web yang bersangkutan… sekarang kecenderungannya orang ga peduli dengan web yang dikunjungi, selain menjadikan web tersebut target empuk untuk dijejelin promosi.

Dengan banyaknya rumor soal baby-sitter yang kelakuannya makin ga manusiawi ama anak asuhannya (padahal secara gaji katanya sih udah UMR punya –saya ga tau, ga pake BS), dengan semakin padatnya Jakarta dengan habit macetnya yang ngga memungkinkan para ibunda menyempatkan diri makan siang di rumah sambil nengok anak tercinta, saya mulai membayangkan dunia yang *mungkin* akan lebih indah seandainya para ibu memang “seharusnya” bekerja dari rumah aja. Kalaupun ada yang bekerja kantoran, itu hanyalah sebuah anomali.

Mungkin banyak yang ga setuju dengan pemikiran ini, apalagi mereka yang merasa pengakuan dirinya diperoleh dari bekerja kantoran. “Gileee, di rumah doang? Bisa mati gaya gue. Mo gaol gimana?!” atau “Ga ngantor? Terus gue disuru anter-jemput anak doang dan terpaksa dengerin rumpian ibu-ibu rumah tangga kurang kerjaan yang nungguin anaknya sekolah?” (Nah yang satu ini bener-bener keluar dari mulut temennya temen yang kebetulan emang ngantor dan sukses di karirnya ^^)

Nah yang saya ingin challenge, kenapa juga bekerja dari rumah itu = ga gaol? Kenapa juga kegiatan anter-jemput anak dan nungguin anak di sekolah = kegiatan wasting time orang kurang kerjaan? Kenapa juga rumpian ibu rumah tangga = gosip soal infotainment yang ga penting punya?

Temen saya Shanti yang sekarang bantu mewakili saya meeting dengan client punya strategi bagus; mengakali waktunya yang dia dedikasiin untuk mengantar-jemput kedua anaknya sekolah (dan les) setiap harinya. Salah satunya dengan bawa laptop dan HP kemana-mana. Anak udah masuk kelas? Daripada nyetir pulang (ato bengong bareng para suster dan mbak di bangku depan sekolah); laptop menyala, dia bisa email, chatting ama tim kerja, kerjain dokumen yang belum selesai bahkan follow-up client.

Menyetir pulang, dia bisa menikmati kebersamaan dengan anaknya yang bercerita soal aktivitas di sekolah, teman-temannya yang hari ini sibuk memamerkan barang oleh-oleh liburan long weekend yang lalu atau sekedar mampir ke pusat perbelanjaan melengkapi stok bahan masakan yang kurang di rumah.

It seems to good to be true, pada saat yang sama kita seolah-olah bisa dapetin semuanya: job (yang akan terus mengasah otak dan kemampuan kita), pengakuan (bahwa kita ga sekedar ‘merongrong suami’ dengan complain uang belanja pas-pasan tapi juga try to help him meskipun mungkin ga sebanding dari segi angka — who knows, someday?), dan kita tetep bisa memantau perkembangan anak-anak kita… ga usah takut suatu hari nanti menyesal kalau mereka dapet perlakuan ga semestinya dari asisten yang sudah kita percaya…

Tentunya itu semua ga gampang. There is a price we have to pay. Komentar ga enak orang laen, “Maruk deh lu. Suami dah kenceng cari duitnya, lu tetep ga puas ati,” keraguan keluarga besar (terutama mereka yang ga  satu visi ama kita), “Apa iya kamu bisa tetep konsen ama anak kalo nyambi kerjaan dari rumah?”, kelelahan emosional (terutama kalo abis didamprat client karena ga ontime, padahal kebetulan pada waktu itu anak kita lagi rewel-rewelnya ga mau ditinggal… mana bisa ngasi alesan beginian ke client? Sementara ibu-ibu yang ngantor bisa menitipkan anaknya selama jam kerja) dan kelelahan fisik (mesti ngebut kerja pas anak lagi tidur or setelah anak tidur –nyubuh ya nyubuh dehhhh…)

Tapi? Namanya udah bayar, tentunya ada hal lain yang bisa diperoleh sebagai gantinya, bukan. Salah satunya ya kepuasan pribadi.

Buat yang berminat dengan ideas ini, join yuk di http://groups.yahoo.com/group/ibudirumah, siapa tau kita bisa come out dengan ide-ide brilian lainnya…