Batasan profesionalisme untuk wanita bekerja…

May 16th, 2008

Sebuah talkshow dengan seorang psikolog yang saya dengar di Cosmopolitan 90.4 FM beberapa hari lalu membuat saya ingin mendengar lebih banyak pendapat rekans soal hal ini. (So, please comment ya…)

Batasan profesionalisme seorang wanita bekerja itu bagaimana ya sebenarnya? Kapan seorang wanita bekerja (either ngantor atau bisnis dari rumah) bisa disebut profesional, bisa menyeimbangkan keluarga – karir dan tidak?

Waktu itu si psikolog (I’m sorry, I really missed the name) menjawab, “Batasannya adalah ketika sang wanita bisa membuat prioritas, kapan waktunya kerja dan kapan waktunya keluarga. Batasan lainnya adalah ketika ada guilty feeling dari hati kecil sang wanita, berarti sudah ada yang tidak beres, ada ketidakseimbangan antara setting-an prioritas tersebut,”

Kira-kira seperti itu. Tapi buat saya kok masih gantung ya. Masih ga menjawab pertanyaan klasik yang terus menggaung di telinga sejak anak saya lahir ini.

Lagi-lagi si psikolog memberi contoh.

Misalnya anak sakit. Seorang wanita bekerja harus bisa membuat batasan, kapan ia tetap masuk kerja dan kapan ia minta cuti untuk mengurus anaknya yang sakit ini. Misalnya lagi: sang anak ada pertandingan basket vs meeting penting di kantor yang mengharuskan dirinya datang.

Seorang wanita bekerja yang profesional, bisa memutuskan kapan ia ‘mengutus’ baby-sitter atau pembantu rumah tangga atau asistennya untuk menggantikan dirinya merekam pertandingan basket tersebut dengan handycam dan kapan ia harus mengesampingkan meeting penting tersebut (dengan risiko dicap ga profesional ama atasannya) untuk hadir bagi anaknya. Ditambahkan oleh sang psikolog, “Tapi kalau setiap ada pertandingan basket si mamih selalu mendelegasikan ke asisten, ya jangan salahkan si anak kalau dia marah dan akhirnya ga ngarepin kehadiran maminya lagi,”

Yang terlintas di pikiran saya: apakah dunia kerja saat ini sudah berbaik hati memaklumi seorang ibu yang ijin cabut dari sebuah meeting penting “hanya” demi sebuah pertandingan basket anak umur 6 tahun? Apakah dunia profesionalisme sudah memberi pengertian pada seorang ibu yang mendadak ijin cuti demi anaknya yang demam sejak malam dan belum turun juga sampai pagi harinya?

Dan untuk kasus saya: apakah dunia konsumen sudah memberi lampu hijau untuk seorang ibu yang sulit diminta meeting keluar karena ia masih ber-idealisme tidak ingin meninggalkan bayinya sendirian pada asisten rumah tangganya? Apakah client sudah memberikan maklum pada seorang wanita yang bekerja dari rumah, yang tidak mungkin bisa meeting pada malam hari di saat bayinya harus tidur? Apakah dunia profesionalisme sudah menerima kehadiran seorang freelancer yang kemana-mana membawa serta anak serta asistennya?

Atau malah semua hal di atas akan memberikan sebuah konfirmasi tunggal bahwa wanita satu ini “tidak profesional” dalam bekerja?

Mohon berikan pencerahannya… ^^