Membaca artikel Bekerja di Rumah vs Bekerja di Kantor dari Ruang Freelance hari ini, jadi teringat idealisme masa lalu. Sekarang setelah menjalani bertahun-tahun kerja di rumah (dan dulu juga menjalani kerja di kantor), kalau memang ada pilihan bekerja kembali di kantor, mungkin akan saya pertimbangkan ulang. Tentunya kalau tidak ada aspek jalanan Jakarta yang semakin parah dan ketidak-inginan bergantung pada keberadaan orang lain untuk menjaga anak
Remember, I’m the mom here. Akan berbeda kalau saya pria dan saya punya istri yang bisa diajak berkomitmen mengatur waktu buat urusan anak
Tentunya kalau ada pilihan. Karena bekerja dari rumah, ga selalu lebih baik dari bekerja di kantor. Orang membayangkan bekerja dari rumah adalah ‘impian ideal di masa mendatang’… kalau saya bilang sih balik lagi ke karakter orang yang menjalani, plus jenis pekerjaan yang ditekuni. Ada yang justru lebih hepi dan maksimal kalau bekerja di kantor… dengan segala fasilitas yang ga mungkin (baca: ga mungkin. Get real ^^) diperoleh dari bekerja di rumah. Seperti soal “image”, kedekatan dengan rekan kerja yang sehari-hari “lu-lagi-lu-lagi”, networking… dan gaji utuh yang ga terpotong tanggungan biaya operasional kerja di rumah
Kenapa karakter? Karena kerja dari rumah betul2 butuh motivasi tinggi, terutama dengan banyaknya distraksi yang pasti ga akan dialami di kantor. Salah satunya seperti yang sudah diulas di artikel di atas, gangguan anak, keluarga, even orang-orang sekitar seperti tukang listrik mendadak datang cek meteran, tukang koran nagih tagihan, tetangga dateng mau ngobrol-ngobrol, pacar sakit minta ditemenin (eh? ^^), anak sakit harus dibawa ke dokter… Kalo kita kerja di kantor kan bebas dengan semua hal kaya gitu, aman terlindungi dalam cangkang “lagi kerja”. Let others take care of it. Di rumah, belum tentu
Yang jelas butuh support system yang kuat, dukungan dari keluarga dan orang sekitar, karena kalau ngga sih dijamin bakal bubar, terutama dari sisi profesionalisme.
Kalau ngomong soal produktivitas, balik lagi tergantung karakter dari orang ybs… itu pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh diri sendiri dan Tuhan
Karena meski kerja di kantor 8 jam seharipun, kalau sehari-harinya banyakan “refreshing ama FB”nya, ya sama aja ama yang kerja di rumah dan banyak distraksi
Coba aja jujur dengan diri sendiri, berapa jam yang digunakan untuk bekerja di kantor? 8 jam? 6 jam? 4 jam? Kalau dijumlah-jumlah, seringkali total waktu bekerja di rumah justru lebih banyak dibanding kerja di kantor. Dengan segala upaya “kejer setoran” dan lain sebagainya itu.