Bekerja di Rumah vs Bekerja di Kantor

June 15th, 2011

Membaca artikel Bekerja di Rumah vs Bekerja di Kantor dari Ruang Freelance hari ini, jadi teringat idealisme masa lalu. Sekarang setelah menjalani bertahun-tahun kerja di rumah (dan dulu juga menjalani kerja di kantor), kalau memang ada pilihan bekerja kembali di kantor, mungkin akan saya pertimbangkan ulang. Tentunya kalau tidak ada aspek jalanan Jakarta yang semakin parah dan ketidak-inginan bergantung pada keberadaan orang lain untuk menjaga anak :) Remember, I’m the mom here. Akan berbeda kalau saya pria dan saya punya istri yang bisa diajak berkomitmen mengatur waktu buat urusan anak :)

Tentunya kalau ada pilihan. Karena bekerja dari rumah, ga selalu lebih baik dari bekerja di kantor. Orang membayangkan bekerja dari rumah adalah ‘impian ideal di masa mendatang’… kalau saya bilang sih balik lagi ke karakter orang yang menjalani, plus jenis pekerjaan yang ditekuni. Ada yang justru lebih hepi dan maksimal kalau bekerja di kantor… dengan segala fasilitas yang ga mungkin (baca: ga mungkin. Get real ^^) diperoleh dari bekerja di rumah. Seperti soal “image”, kedekatan dengan rekan kerja yang sehari-hari “lu-lagi-lu-lagi”, networking… dan gaji utuh yang ga terpotong tanggungan biaya operasional kerja di rumah :)

Kenapa karakter? Karena kerja dari rumah betul2 butuh motivasi tinggi, terutama dengan banyaknya distraksi yang pasti ga akan dialami di kantor. Salah satunya seperti yang sudah diulas di artikel di atas, gangguan anak, keluarga, even orang-orang sekitar seperti tukang listrik mendadak datang cek meteran, tukang koran nagih tagihan, tetangga dateng mau ngobrol-ngobrol, pacar sakit minta ditemenin (eh? ^^), anak sakit harus dibawa ke dokter… Kalo kita kerja di kantor kan bebas dengan semua hal kaya gitu, aman terlindungi dalam cangkang “lagi kerja”. Let others take care of it. Di rumah, belum tentu :) Yang jelas butuh support system yang kuat, dukungan dari keluarga dan orang sekitar, karena kalau ngga sih dijamin bakal bubar, terutama dari sisi profesionalisme.

Kalau ngomong soal produktivitas, balik lagi tergantung karakter dari orang ybs… itu pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh diri sendiri dan Tuhan :) Karena meski kerja di kantor 8 jam seharipun, kalau sehari-harinya banyakan “refreshing ama FB”nya, ya sama aja ama yang kerja di rumah dan banyak distraksi :) Coba aja jujur dengan diri sendiri, berapa jam yang digunakan untuk bekerja di kantor? 8 jam? 6 jam? 4 jam? Kalau dijumlah-jumlah, seringkali total waktu bekerja di rumah justru lebih banyak dibanding kerja di kantor. Dengan segala upaya “kejer setoran” dan lain sebagainya itu.

Kemudian kenapa soal jenis pekerjaan… ada jenis pekerjaan tertentu yang memang sebaiknya tidak dikerjakan oleh orang yang kerja dari rumah. IMHO ya. Sebetulnya lebih ke soal work with team-nya. Hal yang misalnya bisa kelar 1-2 jam saja dengan duduk bareng dan bahas langsung, kalau dikerjakan oleh seseorang yang kerja di rumah bisa jadi baru kelar 3-4 jam, karena harus kirim-kiriman screenshot dulu mana yang dimaksud, harus skype-an dulu untuk sama-sama dapet perspektif yang sama, dll.
Belum lagi seperti saya bilang di atas, ada pertimbangan soal traffic, waktu yang habis di jalanan JAKARTA (ini yang harus digarisbawahi betul-betul ^^), biaya kerja di rumah yang harus ditanggung sendiri (ga seperti di kantor yang semuanya udah jadi biaya operasional kantor, kita tau beres) Kalau soal “kerja dari rumah bebas pengawasan”? Hmmm… saya asumsikan semua orang yang memutuskan bekerja dari rumah adalah profesional, yang tidak lagi meributkan hal-hal seperti itu. Sebagai profesional, kita bertanggung jawab pada diri sendiri, dan pada mereka yang membayar kita. Bisa bos, bisa client. Dan kalau alasan utama kerja dari rumah adalah untuk mencari kebebasan semacam itu, saya rasa ada solusi lain yang lebih mudah: ga usah kerja :D
Karena mau bekerja di rumah atau bekerja di kantor, namanya pengawasan dan ikatan pasti akan selalu ada. Mungkin tidak dialami langsung, seperti bos tau-tau sidak ke meja kerja dan kita kena sindir karena lagi sibuk nge-twit, tapi datang dalam bentuk deadline tidak terpenuhi, client ga puas dengan hasil kerja, profesionalisme dipertanyakan… dan ujung-ujungnya sama: GAJI. Imbalan. Proyek.
Kalau berdasar pengalaman pribadi sih seperti itu ya… bagaimana dengan Anda sendiri?