Bangkok dengan public transportationnya…

April 27th, 2011

…amazing. Dan saya untuk kesekian kalinya kembali berpikir, kenapa Indonesia (baca: Jakarta) tidak meniru saja, apa yang sudah dilakukan negara-negara tetangga ini. Apakah betul yang orang bilang, idenya sudah ada, tapi dananya yang entah kemana; atau terlalu banyaknya aspek politis sehingga akhirnya hal yang seharusnya bahkan bisa dicetuskan oleh seorang anak SMP, tak juga terwujud oleh orang-orang yang jelas lebih “berilmu”?

Hampir sepuluh tahun tinggal di Jakarta, makin terasa masalah macetnya yang membuat frustasi, terutama dalam hitungan setahun terakhir. Kebetulan saya bukan orang yang cukup beruntung punya rumah di area Senayan dan sekitarnya, jadi untuk mencapai area Sudirman, saya harus “turun gunung” sekitar 3 jam. Tentu tidak asing buat orang yang sudah merasakan tinggal di ibu kota :)

Back to Bangkok story, IMHO belum secanggih Singapore, dengan jaring laba-labanya yang menjangkau hampir semua penjuru kota. Tapi tetap saja, sangat membantu untuk bisa “mendekati”suatu tempat tanpa harus mengandalkan taksi 100%. (Apalagi mengingat taksi di Bangkok agak-agak unik, but it’s another story – later ^^) At least sangat membantu dari urusan biaya.

Naik BTS (Bangkok Mass Transit System), misalnya – Sky Train yang jadi public transportation utama di Bangkok (starting fee ke stasiun terdekat adalah Baht 15 – sekitar Rp 4,000-an), selain taksi (yang starting feenya mulai dari Baht 35 alias sekitar Rp 10 ribu — vs Indonesia yang starting Rp 6,000) dan MRT (yang dari sisi biaya sedikit lebih mahal, dan pada beberapa titik dilink dengan BTS). Nyaman, dingin (bahkan kadang menggigil) bersih, dan yang jelas… stasiunnya bebas dari orang-orang yang duduk nongkrong, seperti yang sudah jadi makanan sehari-hari di Indonesia. Sampai seorang teman saya sempat bergurau, “Kalau di Indo, kaki limanya udah urbanisasi semua, dagangan disini, kalo perlu naik ke atas keretanya skalian.” Saya pikir betul juga. Disini, setidaknya ada aturan yang jelas… dan *mungkin* ga ada preman stasiun, yang bisa dibayar untuk membiarkan mereka melanggar peraturan.

Pun attitude orang-orang disini ketika antri masuk kereta… saya langsung teringat antrian penumpang bussway, dan bahkan antrian lift di mall-mall besar di Jakarta. Boro-boro mau menunggu orang keluar sebelum masuk, kalau perlu depan pintu lift dibarikade untuk memastikan “saya” bisa masuk ke dalam. Terus terang saya ga bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau sistem antrian yang tanpa “pagar” ini diberlakukan di Indonesia… bisa-bisa kasus orang “nyemplung” ke platform kereta bahkan ga akan jadi berita di koran lagi, saking seringnya. Mengingat jumlah kasus orang tertabrak di jalur bussway.

Satu lagi yang saya salut, sebagai ibu dengan satu anak balita, saya hampir selalu ditawari tempat duduk, ketika ada di public transportation ini. Hampir selalu, karena kejadian “tidak”nya adalah ketika kereta memang sedang penuh sesak dijejali orang. Dan yang memberikan tempat duduknya tidak hanya kaum berumur (yang jelas sudah tahu rasanya membawa anak balita dengan transportasi umum), tapi juga mahasiswa, bahkan anak ABG berseragam sekolah.

Saya rasa ini bukan lagi hanya soal fasilitas yang disediakan pemerintah, tapi lebih dari itu… tentu banyak juga kisah lain yang tak seindah hal di atas, but let’s try to see the positive side, and learn from them… Go Indonesia Go!

One Response to “Bangkok dengan public transportationnya…”

  1. Wirda Nadya says:

    Salam kenal mba Monika…
    Membaca tulisan mba, saya jadi teringat waktu saya berkesempatan ke Singapura. Wah betapa saya terbengong-bengong melihat betapa menyenangkannya berwisata dengan transportasi umumnya. Lain sekali dengan Jakarta… Dan tau-tau saya jadi teringat Jakarta di tahun 1970-1980an… masih lengang dan masih enak berpergian dengan kereta atau bis umum. Sekarang ? bukan cuman harus berjibaku dengan puluhan orang di dalam bus, resiko kena penyakit bisa juga deh…
    Banyak sekali yang mesti diubah untuk menjadikan Indonesia seperti negara lainnya. Attitude yang paling utama… Moral kita yang sudah dititik nadir. Moral tak ada,korupsi jalan, korupsi merajalela alhasil uang negara dimakan, akibatnya sarana dan prasarana yang harusnya dapat dinikmati rakyat jadi makin rusak… Yah, lingkaran setan sudah … Aku sih berharap sebagai ibu, mungkin pendidikan moral dan agama yang paling utama. Biar anak ku kelak tidak menjadi koruptor, syukur2 bisa memberikan sumbangsihnya ke negeri… Jadi impian untuk membuat indonesia menjadi lebih baik bisa diwujudkan… Mimpi ya ?.. ah gak papa, mimpi indah ini siapa tau kewujud…

Leave a Reply

*
To prove you're a person (not a spam script), type the answer to the math equation shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the equation.
Click to hear an audio file of the anti-spam equation