Usability – subjektif!

April 24th, 2010

Lama-kelamaan saya berpikir USABILITY adalah hal yang subjektif. Apalagi setelah banyak bertemu client dengan berbagai background dan cara pandang.

Ada yang seorang designer, sehingga visual berarti segalanya. Usability baginya adalah penggunaan image, foto dan gambar yang menjelaskan, sehingga tanpa text pun sebuah situs sudah mendeskripsikan dirinya sendiri. SEO is out of her mind, jadi jangan coba bicara soal tagline, keywords, yang akan terdengar non-sense baginya.

Ada lagi yang murni seorang business-man. Penggunaan foto yang menurut saya bagus secara visual, angle yang tidak biasa, warna yang enak dilihat mata, terasa kurang pas. Buat jenis client yang ini, banner dengan foto produk dan tulisan besar merah mencolok “BARANG X DIJUAL MURAH” adalah yang paling baik untuk websitenya, karena begitu orang masuk ke web tersebut, orang akan langsung tahu apa yang ditawarkan di websitenya itu.

Ketika kita menawarkan definisi usability berdasarkan pendapat kita, ada kalanya kita perlu melakukan kompromi, dimana kita harus bisa melihat juga dari sudut pandang orang lain.

Our definition is not always the best. Tapi setidaknya kita sudah mencoba menyampaikan apa yang jadi pemikiran kita.

Buat saya sendiri? Hal-hal sederhana misalnya seperti:

  1. Banner dengan petunjuk angka sehingga orang tidak harus menunggu banner loading sehingga melewatkan informasi (penting) tanpa sengaja, hanya karena dia tidak punya waktu menunggu loading banner tersebut selesai

    2010-04-24_0802

  2. Simplicity, menghindari distraksi yang tak perlu

    color choice

  3. Clear, dimana setiap hal dijelaskan

    detail when mousel over

Bagaimana usability menurut Anda?

3 Responses to “Usability – subjektif!”

  1. Lingga says:

    Usability tidak subjektif. Usability yang tidak di test pada real user adalah subjektif.
    Karena penuh dengan asumsi.

    Tapi kalau sudah masuk testing, orang mau bilang apa, asumsi apa saja, hasil yang akan bicara.

    Pengacara mau bilang apa, jaksa penuntut mau bilang apa, saksi dan bukti yang akan bicara.

    Dan testing yang paling baik adalah real world user testing. Hasil testing yang paling nyata adalah sebagus-bagusnya desainer / owner / UX consultant mengklaim situs ini bagus, tapi tidak ada satu pun produk yang terjual setelah 6 bulan launch. Cuman ada 2 outcome : It (the website) works, atau it doesn’t work.

    Cukup objektif bukan.

  2. Monika Tanu says:

    Hmmm… good point. Tapi bagaimana testnya sendiri pada user Indonesia? Ada ga sih lembaga yang mengadakan tes “hanya” untuk website? Secara website masih jadi anak tiri di dunia marketing pada umumnya…

  3. dani says:

    Sekian banyak pendapat subjektif saat ‘user testing’, jadi kolektif & ‘best practice’.
    Kalau ada yang peduli hal itu di Indonesia, saya mau jadi ‘tester’-nya. :)

Leave a Reply

*
To prove you're a person (not a spam script), type the answer to the math equation shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the equation.
Click to hear an audio file of the anti-spam equation