Pagi ini, email pertama yang masuk ke inbox saya berisi pesan yang paling anti didengar oleh setiap (web) designer (or desainer grafis, arsitek, desainer interior, or setiap orang yang berurusan ama hal paling rumit sedunia: DESAIN) NB: Mbak Melly, ga papa ya email Mbak aku jadiin topik bahasan di blogku hari ini… You’re still my nice client, it’s only about sharing my thoughts ya
“Mbak Monik, jangan marah ya… desainnya udah aku liatin ke suamiku, kata suamiku desainnya too common…”
Ga seperti waktu-waktu sebelumnya dimana saya sempet ilfil pas minta pendapat salah seorang temen baik, yang dengan innocentnya (dan enteng berat) berkomentar, “Kata istri gue (loh kok bukan kata elo? Hihihi, peace, my friend!), desainnya BIASAAAAA banget!” , sekarang saya lebih cuek nanggepin komentar seperti ini. Karena sekarang saya udah lebih paham, yang menghadapi masalah kaya gini ga cuma saya seorang. Dan mendapat komentar seperti di atas, bukan karena desain saya jelek, tapi karena yang namanya desain, emang tidak mungkin bisa menyenangkan semua pihak
Sekali lagi: desain – tidak akan mungkin bisa menyenangkan semua pihak.
So, saya suka sekali dengan statement salah seorang client saya yang lain, (Hi Pak Herman, semoga proyek kita deal ya sebelom akhir taun… ^^) yang dengan spontan bilang: “Oh, saya ga peduli saya akan suka ama desainnya atau ngga… yang penting TARGET MARKET SAYA SUKA DESAIN ITU,” Wow, what a great thought. Di tengah semua serba berpikiran “saya harus suka dulu dong”, beliau bisa berpikir one step ahead, berpikir dari sisi target market yang dibidik. Dari puluhan client yang pernah saya punya, bisa dihitung dengan jari orang-orang yang berpikiran seperti ini. Bravo!
Desain yang saya buat mungkin saja menyenangkan client saya. Client saya mungkin saja cinta berat ama desain saya itu. Tapi kalau ternyata desain itu gombal, alias buat target market saya membingungkan, ga works, dibukanya aja lelet setengah idup (meski orang udah bilang koneksi up to 3,1 Mbps… tetep lah namanya “up to”), akhirnya ga berguna juga.
Di satu sisi, mungkin saja desain yang “biasssaaaaa” itu, desain yang “to common” tadi, ternyata berkenan di hati para target market, user tau harus mencari apa dimana dan kemana, cepet loadingnya karena codingnya clean, bersih, seperlunya (dan ga ketambahan coding-coding ga penting hasil slicing photo editor into HTML itu) dan akhirnya useful, works, dan membawa hasil yang baik (baik dari segi branding, visitor statistic dan duit tentunya ^^).
Sang client mungkin saja merasa merasa ga seneng ati, ga puas, merasa “salah nyewa designer tapi karena udah kadung ya udah deh” karena “desainnya ga bagus” (padahal lebih tepatnya: “SAYA ga suka desainnya”), tapi kalau webnya ternyata usable dan bahkan useful, target market hepi?
Desain: relatif. Suka atau ga suka: relatif.
Dengan posting ini, saya ga bermaksud mengarahkan client untuk langsung menyetujui apapun yang saya & tim ajukan. Itu namanya saya nyari gampangnya aja. Ga mau repot. Yang penting duit masuk, done. Makin cepet proyeknya kelar, makin hepi saya. Tapi disini, saya ingin mengajak bicara dari hati ke hati, mengenai apa yang sebetulnya bisa kita raih bersama. Saya dan tim hepi, Anda juga hepi. Cari jalan tengah lah intinya. Jangan sampai yang satu menindas yang lain in the name of “kan saya udah bayar” atau “kan saya lebih tau daripada Anda”
Saya dan tim saya yang jumlahnya tak mencapai puluhan ini, jelas juga membutuhkan masukan client untuk bisa maju dan berkembang bersama. Dari client yang satu saya tahu bahwa target marketnya ternyata tidak peduli akan yang namanya flash, apalagi di BB flash ternyata ga bisa diakses; dari client yang lain saya dapet masukan bahwa ibu-ibu ternyata suka sekali memajang foto anaknya sebagai avatar (dan kalau Anda tanya saya, saya yang narsis ini jelas ga akan make foto anak saya sebagai avatar, itu namanya menyesatkan orang… masa umur 30 mukanya masih mulus kaya bayi? Hihihi). Intinya kita belajar bersama.
Suka atau ga suka itu relatif banget. At least buat saya. Saya pecinta drama Jepang, dan menurut saya drama Jepang itu konfliknya sehari-hari tapi ‘kena’, sementara suami saya menganggap drama Jepang itu gombalnya sama aja ama sinetron Indonesia (ups, sorry, saya menghargai produk Indonesia, tapi anomali deh buat yang namanya sinetron ^^)
Buat saya Twilight-nya Stephenie Meyer itu asik dan bikin saya semangat menghabiskan 4 buku dalam beberapa hari saja (not the movie, please, meski saya masih tetep pingin nonton New Moon karena penasaran ^^), buat orang lain cengeng dan dangkal banget. Ada temen saya yang langsung memasang raut underestimate begitu denger saya (yang notabene udah ga ada status teen-nya lagi) ternyata masih sempet-sempetnya baca buku “kaya gituan”
So, di saat semuanya serba relatif seperti ini, sebetulnya suara siapa yang harus didengarkan? Itu PR kita bersama. Mari kita find out dengan pemikiran yang lebih terbuka…
Penyakit lama banget tuh yah, komentar klien yang destruktif tapi disuruh paparin apa aja sarannya, malah mereka gak tau mau ngomong apa. Malah “ya pokonya dibagusin lah”. -__-
Tapi bagus nih, intinya bagus buat target market, atau bagus buat Anda?
Hi Felix, wah seneng masih sempet mampir-mampir kesini ^^ Penyakit lama tapi menahun ya… makanya tetep rajin posting yang kaya begini
Iya, bener banget, seringkali designer disamakan ama dewa yang harus bisa baca pikiran client… hihihi… mending kalo kaya salah satu client gue nih, comment gini: “Desainnya ,asih kurang gimanaa, gitu,” dan dimintain contoh, masih mau berusaha browsing dan jelasin apa yang ada di bayangan dia… yang paling menakjubkan tuh kalo yang akhirnya balikin lagi ke kita: “Ya kan elu designernya, elu yang mikir dong, masa gue yang disuru mikir… buat apa gue bayar elu?” oh… please.
bener sangat tu mbak, pusing klo ketemu ama client yang gak tau mau nya apa.., yang lebih parah klo ketemu ama client yang norak! wah udah dah, aneh semua tu desain kaco!! dah di bilangin gak bagus gak mau tau, duh susah!!
Owh jangan kawatir sis, blog elu mah gw subscribe sedari dulu! Cuman waktu itu 2-3x mo ngekomen tapi eror pas kirim. Jadinya rada ‘trauma’. Tapi untung udah ga pernah eror lagi nih.
Wew jahat banget klien kek gitu, mending dilabrak aja “bu/pak, saya transfer balik DP nya untuk proyek ini yah. Maaf saya tidak bisa bekerja sama lagi dengan kamu”.
Semua klien yang “n00b” wajib baca post ini nih
mba monik, sebelumnya maaf klo comment saya ini di luar topic.
waktu itu saya pernah nyasar utk pertama kalinya ke blog mba monik, wkt itu topicnya klo gak salah tentang recruitment/outsourcing. dan mulai saat itu saya rajin postingannya mba monik di blog ini(i’ve bookmarked your blog too).
saya mau tanya mba, klo harga bikin website flash-based itu berapa ya?
contonya kayak site ini http://www.jerryaurum.com/portofolio
thanks ya mba monik.
Mbak Ega, saya japri aja ya. Urusan harga kayanya lebih enak japrian langsung daripada dijembreng di web ^^ BTW untuk web full flash, saya dan tim perlu detail animasi yang diinginkan, karena kalau flash, tampilannya keliatannya “simpel”, tapi pengerjaan di baliknya seringkali ga sesimpel itu
Anyway thanks for bookmarking my blog
mba monik, aku suka designnya mbak monik, clean simple gak ribet..mau tanya mbak, kalau buat website yang gak pake flash-flashan, brp ya kira-kira? makasih banyak ya mbak
Mas Dedek, ini pertanyaan singkat dengan jawaban berlembar-lembar
Silakan japri aja ya Mas, tolong didetail dulu spesifikasi websitenya seperti apa, karena estimasi biaya pembuatan websitenya sangat bergantung pada detail yang dibutuhkan dan diinginkan. Thanks