Yuk, jadi smart mom yuk…
Beberapa bulan terakhir ini saya agak kesulitan menyisihkan waktu khusus untuk ngeblog seperti dulu. Si kecil yang udah menginjak 11 bulan semakin aktif, dan seperti ramalan temen saya ibu beranak 2, di siang hari saya cuma punya waktu paling banter 3 jam (2x tidur siang @1,5 jam — itupun kalo dia lagi anteng dan tahan tidur segitu lama) untuk melakukan apa yang saya ingin lakukan. Sisanya? Ya ngawasin anak merangkak kesana-kemari, ya memastikan ga ada tangisan histeris kalo kebentok sesuatu (diawasin sendiri aja udah beberapa kali kecolongan kok), ngajak maen dengan jadi badut sirkus, nyuapin makan (secara tiga minggu terakhir ini lagi susah makan banget), gantiin celana bekas pipis, nyuci celana bekas pup, mandiin. Komplit sudah.
Rasain, kata temen saya. Siapa suruh lu dulu kurang ajar ama orang tua. Wakakak.
Kalo melankolis saya lagi kambuh, saya akan bilang… ah, indahnya menjadi seorang ibu, bisa mengawasi langkah pertama si kecil (wait, dia bahkan belum melangkah!!! Merangkak aja udah bikin saya kehilangan luxury time membaca buku di siang hari kaya jaman dahulu kala), bisa melihat senyum dan tawanya setiap saat, yang bikin semua cape di badan hilang. Kenyataannya? Saya ingetin ya, yang namanya orang baru akan menghargai sesuatu kalo udah kehilangan. Ato kalo udah nyemplung ke kondisi yang ga seenak sebelumnya. ^^
So, saya rasa wajar kalo lebih banyak saat dimana saya merasa ga ada beda ama baby sitter rumah sebelah, malah lebih parah karena di pagi hari yang cerah dia udah bisa jalan-jalan santei sekeliling kompleks dengan seragam putih bersih bareng si anak asuh, sementara saya masih pake kaos dan celana pendek “seragam tidur di malam sebelumnya”, belum mandi dan masih belepotan sisa makan pagi anak saya. Boro-boro mau menghela napas penuh kebahagiaan, memandang anak saya dari jauh dengan mata berkaca-kaca saking terharunya.
Jadilah posting temen saya Devi di milis smartmommy@yahoogroups.com (baru hari ini berubah nama, sebelumnya namanya bisnismama@yahoogroups.com) menjadi sumber inspirasi saya hari ini. How to become a smart mom, a “yummy” mom, ibu rumah tangga yang ga identik dengan ‘ibu-ibu dasteran tukang gosip bak katak dalam tempurung’ yang sore hari menyambut suami dengan daster lusuh kucel (bau, lagieh). Jangankan berharap bisa jadi partner diskusi suami, ga memberondong suami dengan urusan domestik rumah tangga aja udah bagus banget.
Intinya, yuk, para IRT (ibu rumah tangga), kita jadi smart mom yuk… Hilangkan anggapan negatif orang terhadap profesi IRT ini, buktikan bahwa dengan fulltime di rumah kita tetep bisa jadi “something”, even more than working moms yang sehari-hari ngantor (tanpa bermaksud mendiskreditkan rekans yang ngantor lho ya)…
How?
Saya rasa share Devi di bawah ini (agak panjang ya) bisa jadi sumber inspirasi Anda juga. Bravo, Vi!
Pertama sekali, rasanya kita harus memulihkan status IRT yang identik dengan ‘ibu-ibu dasteran tukang gosip bak katak dalam tempurung’. Ada teman saya ragu mengikuti panggilan hatinya untuk jadi ‘IRT’ karena takut nanti ga dianggap ama suami (dan keluarganya) juga jadi
ketinggalan banyak informasi, dll. Saya sendiri juga sempat sangat ragu untuk membenamkan diri sepenuhnya di rumah, ini memang bukan pilihan yang mudah. Pikiran pertama, aduh… turun level banget ya?, pikiran kedua: sayang banget ya gajinya.IRT- ibu rumah tangga- atau lebih baik kita sebut homemaker; ini padahal adalah profesi yang butuh skill tinggi. Saya agak menyesal karena tidak punya skill yang bisa menunjang pekerjaan baru ini, maklum ibu saya tidak memuridkan saya dalam hal ini, mungkin karena di dalam hatinya, beliau sendiri menganggap pekerjaan ini kurang berarti. Setelah menjalani hampir dua tahun, saya sungguh berharap seandainya ada kursus atau bahkan jurusan khusus: Homemaker. Setahu saya di Jepang (dan Korea) ada jurusan semacam ini. Untungnya di internet banyak resource gratis yang bisa membantu dalam mengorganisasi rumah.
Apakah ada yang aneh dengan menjadi homemaker? Seorang homemaker adalah manager yang mengatur bagaimana rumahnya menjadi sebuah tempat yang nyaman, menjadi sarang yang dirindukan oleh seluruh anggota keluarganya. Terlepas menggunakan jasa asisten (PRT/babysitter), dialah yang bertugas mengatur, dialah yang menentukan bagaimana
operasional rumah tangganya berjalan. Lihat, mengapa tidak kita terapkan cara menalar yang kita peroleh lewat pendidikan dan pekerjaan, juga skill profesional kita pada rumah kita, agar
organisasi kita (yaitu rumah kita) bisa berjalan dengan sehat dan produktif.Produknya adalah suami yang happy dan bisa bekerja dengan tenang karena anak2 berada dalam asuhan ibunya sendiri, anak-anak yang sehat dan bahagia karena kebutuhannya tercukupi, aspek emosional khususnya. Si ibu sendiri bisa leih mudah menghadapi sindrom: PRT mudik tiap lebaran yang biasanya menghantui para ibu pekerja kantoran.
Daoed Joesoef, mantan mendikbud RI pernah menulis di Kompas tentang Kyoiku Mama/Education Mama. Para mama Jepang dinilai punya peran besar dalam mendidik generasi muda bangsa ini menjadi orang-orang beretos kerja terpuji. Berikut kutipannya..
“Dalam kapasitas sebagai ibu inilah para istri membaktikan hidupnya demi kepastian keturunan mampu memasuki sekolah-sekolah bermutu. Maka, di balik karyawan Jepang yang beretika kerja terpuji itu ada perempuan umumnya, kyoiku mama atau education mama khususnya. Mereka inilah yang merupakan pilar-pilar kukuh yang menyangga para karyawan itu.
Merekalah yang membantu perkembangan ekonomi yang luar biasa dari bangsanya sesudah Perang Dunia. Kerja dan pengaruh perempuan Jepang dapat dilihat dalam jalannya pendidikan nasional dan stabilitas sosial, yaitu dua hal yang sangat krusial bagi keberhasilan ekonomi
sesuatu bangsa.Jadi, perempuan Jepang ternyata berperan positif dalam membina dan mempertahankan kekukuhan fondasi pendidikan dan sosial yang begitu vital bagi kinerja kebangkitan ekonomi bangsanya. Ketika saya sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan diundang untuk meninjau berbagai lembaga pendidikan dasar, menengah, dan tinggi negeri ini, saya kagum melihat kebersihan ruang laboratorium di sekolah umum dan bengkel praktik di sekolah kejuruan teknik.
Semua murid membuka sepatu sebelum memasuki ruangan dan menggantinya dengan sandal jepit yang sudah tersedia di rak dekat pintu, jadi lantai tetap bersih bagai kamar tidur. Ketika saya tanyakan kepada guru yang mengajar di situ bagaimana cara mendisiplinkan murid hingga bisa tertib, dia menjawab, “Yang mulia, saya hampir tidak berbuat apa-apa dalam hal ini. Ibu-ibu merekalah yang telah mengajar anak-anak berbuat begitu.”
lengkapnya baca di: http://zulfikri-kamin.blogspot.com/2008/02/kyoiku-mama.html
Saya pernah merenungkan ini sebelum berhenti bekerja… mungkinkah karena generasi muda bangsa kita kebanyakan diasuh oleh PRT/babysitter? Dengan berada di rumah saat ini saya saja sering kewalahan mengasuh dan mendidik anak saya, memenuhi rasa ingin tahunya, padahal saya adalah ibunya yang punya visi untuk dia, yang berusaha menanamkan nilai-nilai yang dianut oleh keluarga. Bagaimana mungkin pihak lain (PRT/babysitter) mau repot2 melakukan hal ini? Mungkinkah karena banyak ibu yang lebih memilih bekerja di luar rumah, sehingga anak2 sekarang lebih ‘keropos’?
Saya punya seorang asisten di rumah, beberapa kali saya ingatkan dia untuk tidak membereskan mainan anak, tidak memakaikan baju anak, tidak memakaikan sepatu, dll –> tetap saja kadang2 si PRT itu langgar- karena mau cepat, bagaimana jika saya tidak di rumah?. Jelas dia tidak punya visi apa2 untuk anak saya.
Jadi, jika seorang ibu masa kini yang rata2 berpendidikan minimal S1 mau lebih banyak memberikan waktunya buat anak; kuantitas rasanya juga penting buat seorang anak kecil, tidak hanya sekedar waktu berkualitas - mungkinkah kita bisa ciptakan generasi muda bangsa Indonesia yang lebih berkualitas, yang berkarakter terpuji?
Rasanya mungkin sekali.
Saya rasa saya ga perlu menambahkan apapun lagi karena share Devi di atas udah mengungkapkan apa yang ingin saya ungkapkan. Pemikiran yang oks banget, yang pastinya bisa memotivasi para IRT yang saat ini masih minder dan keder kalo ditodong pertanyaan, “Sekarang kerja dimana?”, bahkan justru bisa menginspirasi working moms yang masih gamang “turun” pangkat ke profesi “cuma” ibu rumah tangga saja.
What do you think, smart moms?
Comments
9 Responses to “Yuk, jadi smart mom yuk…”
Leave a Reply
setuju banget mon.. ayo kapan kita ketemuan? gue udah di jkt
wakakaka.. asli gue ketawa ngakak baca postingan lu kali ini.. bener2 mencerminkan isi hati yak kekekeke…
namanya juga segala sesuatu tuh ada suka dukanya… ada masa2 menjengkelkan… ada masa2 menyenangkan.. ada masa2 mengharukan…. tapi yg jelas, intinya kudu enjoy.. jadi ketika anak dewasa nanti ada sesuatu yg bisa dikenang hehehe
Heyyy bukannya mendukung aspirasi rakyat… ya gue dari dulu bukan model cewe-cewe yang bakal menjerit antusias kalo liat bayi gitu sih… hahahaha…
Alow, Mon
still remember me?
gw jg dah jadi Mom, babyku dah 4 month. Lagi di tengah persimpangan jalan untuk decide. Thx loh buat postingannya. btw, bisa ngobrol japri nga? (ibaratnya sebelum ngambil decision pengen consult dulu ^_^ )
thx
Halo Lin…
Eh ini Lin yang dulu nanyain minus dan retina tipis bukan ya? Istrinya Budi Tedja? *sorry kalo salah* Boleh dong, japri ajah… ^^ Ditunggu!!
haaai mbak Mon, ini aku lagih si tukang oven, hahahaha…
sama sih, aku juga hari ini baru mandi jam 12 siang, kacau…
beruntunglah ibu yang kerja di rumah yang bisa ngawasin anak2 mereka sendiri, walopun beberapa teman mangaku mereka beruntung sbg pekerja kantoran karna ngga kuat liat rumah diberantakin anak2nya, hihihi….
aku dl sempet ngeri juga kalo nanti ada orang tanya “kerja dimana?” dan aku harus jawab “nggak dimana2″ :D, tapi aku sekarang bangga juga bisa jawab “kerja di rumah jualan kue sambil ngawasin anak” hehehe…
Salam
Yulia
uda repot ya skg mon? gue jg bentar lagi bakal serepot elo kali ya hehehe
pengennya sih jadi FTM biar bisa ngeliatin perkembangan anak, tp kog ya slaloe ada problem yg bikin gue batal resign dr kantor
Hi Mon Mama Aurel,
Pengen banget nih bisa jadi smart mommy, niat sih emang pengen jadi FTM, tapi apa daya masih jadi working mom nih. Untungnya kantor cuma 3menit jalan kaki dari rumah, jadi bisa ngecek Diba dan nyusuin kapan aja. Ntar kalo emang ke Jakarta n butuh donor ASIP, tinggal minta stocknya Aurel ya, hehehe
Duh mengena bgt niy…
Aq ibu bekerja n skrg punya baby 3 bln
Stlh cuti bersalin nambah cuti besar 3 bln, hbs itu, dah ga da excuse lg, jan09 musti masuk.
Yg lg bingung, si bayi dtinggal drmh ama pembantu n diawasi eyangnya yg kbtulan tetanggaan ato dbw k TPA d kantor tp msh bingung transportnya cz blm punya mobil. Pgn jd FTM tp scr finansial blm siap…gmn ya mb?ada saran?