Hmmm. Bisa jadi. Dari pengalaman sih, yang namanya denger kata “Perfect,” or “Great,” or “Wow!” dan kata positif lainnya dari klien sini, jarang banget.
Yang jadi makanan sehari-hari:
“Bagus sih Monik, tapi…”
“OK lah, cuma kok bagian ininya masih ga asik ya?”
“Sip deh, tapi bisa kasi alternatif lainnya ga? Belom sreg,”
Kalo pelajaran bahasa Indonesia jaman SMA dulu, namanya majas apaaa gitu loh. Dalam satu kalimat ada dua hal yang saling berlawanan. (Halah lupa. Padahal dulu saya paling jago urusan ulangan soal majas)
Atau yang lebih mengarah ke negatif:
“Doh, saya ga suka! Desain apaan neh?”
“Ga bagus. Bikin yang baru lagi.”
“Kamu apa saya sih designernya? Kok bagusan bikinan saya?”
Beberapa kali ngerjain proyeknya orang luar, hal yang berlawanan terjadi.
“Perfect!!!” or “Great! This is exactly what I want!” or “Good job!”
Padahal saya rasa, kualitas yang saya berikan relatif sama. Saya ga pernah bedain apakah klien ini orang lokal atau ngga. (Tapi kalau ditanya bedanya apa, memang harus diakui: kita mesti punya indera keenam kalo berhadapan dengan klien sini, secara keinginan dan kemauannya relatif susah ditebak ^^ Ga kaya orang luar yang biasanya udah tau persis maunya apa)
So… Apakah karena tipikal klien Indonesia yang dibesarkan oleh pola pikir yang kritis dan ga mau rugi (udah bayar gitu lohhh, masa mau-mau aja terima jadi. Keenakan designernya, ga perlu usaha), atau memang faktor sulit dipuaskan itu?
Selamat datang di misteri perdagangan jasa