Anak: Betulkah Sebuah Investasi?

May 25th, 2008

Biasanya saya bete banget ama yang namanya SPAM. Email si sender akan langsung saya Add to Blocked List.Tapi email SPAM yang berasal dari megawati_lie@indosat.net.id sore ini mau ga mau saya baca juga karena isinya cukup menarik. Setidaknya statement yang diulas sudah beberapa kali ingin saya bahas di blog, cuma ga jadi-jadi. Dikutip dari Tabloid NOVA No. 842/XVI, tulisan Safir Senduk yang mempopulerkan profesi “Perencana Keuangan”:

“...ketika berbicara tentang biaya pendidikan, banyak yang menganggap bahwa pendidikan adalah sebuah investasi. Lho, investasi apa? Ya, investasi. Harapannya, uang yang mereka keluarkan untuk biaya pendidikan si anak kelak akan kembali.

Apa sih arti investasi itu sendiri? Arti investasi buat saya (baca: Safir Senduk) adalah tindakan yang Anda lakukan untuk memperbesar nilai aset yang Anda punya. Lalu, apa hubungannya dengan biaya yang selalu Anda bayarkan setiap tahunnya untuk pendidikan anak Anda? Tergantung bagaimana Anda memandangnya.

Apakah Anda berharap dengan membiayai pendidikan anak, kelak biaya hidup Anda akan ditanggung si anak? Anda harus menyadari bahwa pembiayaan pendidikan yang Anda lakukan untuk anak seharusnya memang sudah menjadi konsekuensi Anda sebagai orang tua. Ya kan?

Jangan pernah membiayai pendidikan anak tetapi berharap bahwa suatu saat kelak si anak akan memberikan imbalan langsung kepada Anda. Entah anak Anda akan memberikan uang atau membiayai hidup Anda. Sekali-sekali jangan sampai itu terlintas di pikiran Anda, karena ­ sekali lagi ­ pembiayaan pendidikan yang Anda lakukan adalah sebuah kewajiban yang harus Anda lakukan, tanpa Anda perlu berpamrih apa-apa.” *cut!*

Sampe disini saja, karena saya bukan mau membahas soal pendidikan anaknya atau soal investasinya, tapi soal pola pandang banyak orang tua yang menganggap anak sebagai tumpuan masa depan, dimana kalau sudah tua nanti, orang tua berhak bersantai karena tugas anaklah untuk gantian menopang kehidupannya (sampai tutup usia) kelak.

Ada salah satu drama Jepang yang saya lupa judulnya (you know me, I’m drama Jepang freakz ^^), yang jelas salah satu episode dan dialognya sangat mengena buat saya — disana digambarkan seorang anak yang sakit parah dan bolak-balik keluar-masuk rumah sakit, ia minta maaf pada orangtuanya karena selama ini telah menyulitkan mereka. “I cannot make both of you happy,”

Apa kata si bapak (or ibu yak)? Saya lupa detailnya. Intinya, ortunya bilang, “It’s OK, dengan kehadiran kamu saja dunia kami sudah jauh lebih berwarna daripada sebelumnya. Your laugh, your giggle, your voice… it’s our happiness,”

Hm. Betul juga. Dengan hadirnya anak itu saja, sebetulnya orang tua sudah mendapatkan “jatah”nya untuk menjadi bahagia. Melihat anak kita tertawa, terkekeh, menjerit gembira, adalah hal yang tak bisa dibeli dengan materi. (You can trust me since I’m not a children lover, I only get interested in my own child hahaha)

Banyak orang masih beranggapan bahwa seorang anak harus membahagiakan orang tuanya kalau ga mau jadi durhaka *patokan saya adalah dialog sinetron yang antara lain hobi bilang “Kamu kan anak Bapak, masa kamu mau bikin Bapak sengsara,”* hey… bukankah kebahagiaan adalah tanggung jawab pribadi setiap orang? Teori pengembangan diri bilang: jangan kita menggantungkan kebahagiaan kita pada orang lain.

So kalo Tante saya bilang (tante favorit saya yang punya pola pandang western banget, beda dari pandangan timur pada umumnya): anak adalah sebuah pribadi sendiri. Ga ada lah yang namanya tugas anak membahagiakan orang tua, termasuk ga ada kamusnya anak wajib membiayai orang tua kelak. Kalaupun si anak ingat dan mampu, itu adalah bonus. Bukan ’sudah layak dan sepantasnya’ apalagi kewajiban.

Semoga dengan mindset seperti itu, setidaknya kita bisa selangkah lebih dekat dengan prinsip ‘melepaskan’-nya I Gede Prama… *thanks Samuel, I read his books because of you*