19.04 WIB. Jam 7 malam, bayi saya belum menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Asisten saya sedang terbius di depan TV, melahap adegan demi adegan kekerasan yang ditampilkan disana. Entah apa yang ada di pikirannya. Tercengang, atau malah terbiasa?
Adegan suami mengangkat tangan tinggi-tinggi, mau menampar istrinya.
“Gembel kaya kamu mau numpang makan disini?!?!” seorang nyonya cantik dengan rambut bersasak tinggi dan make-up lengkap menjerit, mata membelalak seperti mau melahap perempuan berbaju lusuh di depannya.
Adegan seorang ayah “menyiksa” anaknya yang masih berusia belasan tahun dengan menyiramnya habis-habisan dengan air di kamar mandi, padahal si anak sudah berjongkok di pojok, menjerit-jerit minta ampun karena ga tau-menahu soal informasi yang diminta oleh sang ayah.
Adegan dua pembantu yang dengan angkuhnya bilang, “Ngurus bayi seharian cuma dikasi seratus ribu?” (alamak jan… ga heran kemaren ini kepingan lima ratus rupiah yang saya kasi ke polisi cepek di tikungan jalan dilempar ke kaca mobil saya sebagai ungkapan ketidakpuasan) Iya deh kalo gaji bulanannya yang seratus ribu doang, itu tips sehari ngejagain bayi lho bouw… (Aduh, para PRT yang disuru jagain anak di rumah itu pada mikir apa ya denger kaya begitu…)
Kata brengsek, gembel, jadi mantera sakti wajib di setiap adegan yang menggambarkan perselisihan.
Ga perlu disebut satu per satu judul sinetron semua adegan di atas, yang pasti saya bersyukurrrr banget saya ga harus ngantor kaya temen-temen lain yang terpaksa pasrah anaknya diajak ikut nonton sinetron ama asisten yang dititipin ngejagain… Dohhhh!!!