Harga batik cerminan harga desain Indonesia

February 25th, 2008

Mengutip apa kata Guruh Soekarnoputra di Kompas beberapa hari lalu, kayanya memang begitulah tipikal orang kita.

“Buat beli tas Luis Vitton, orang Indonesia berani keluar duit puluhan juta. Tapi beli batik, satu juta aja udah tereak,” Kira-kira begitulah kata Guruh.

Idem ditto ama harga desain. Orang suka bilang “…budget saya cuma segitu,” but actually budget sebenernya lebih, hanyaaaa lebih dialokasikan pada hal-hal lainnya yang “lebih worth it” daripada website “doang”. Ga ada yang bisa disalahkan sih dalam hal ini; it’s only about assumption dan pola pikir.

Let’s wait until the era comes… when a website is not “doang” ^^

2 Responses to “Harga batik cerminan harga desain Indonesia”

  1. kudiarto21 says:

    wkakakakakka………..

    “…budget saya cuma segitu,” but actually budget sebenernya lebih, hanyaaaa lebih dialokasikan pada hal-hal lainnya yang “lebih worth it” daripada website “doang”.

    Kemaren g juga ketemu client kaya’ beginian (padahal semua client di daerah 99% berjenis ini.

    awalnya idenya bagus. duar. duer. duor.
    pokoke perpekto lah kata orang arab ;)
    eh, pas disodorin anggaran…. ‘lah ko’ mahal amit ini…. hue…he…he….
    udah buatin saya yang pasaran ajah…. wong perusaan saya udah punya nama…. mao webnya gmana juga, tetep perusahaan saya ada :D

    hua…ha..ha…….

    sori nih malah curhat mom’, maklum newbie….

    *piss

  2. Monika Tanu says:

    Makanya diriku suka males nanggepin orang yang mimpinya selangit… biasanya tak cut dulu, “budgetnya piro mas?” kalo make sense barulah kita bicara lebih jauh… soalnya udah jauh-jauh ngoceh panjang-lebar setinggi bintang di langit, ujung-ujungnya biasanya menthok di budget…

    ya sama aja lah kaya saya kalo ketemu tukang bangunan… pingin pasang pintu di bawah tangga, pasang pintu geser di ruang kerja, pasang pintu pembatas di ujung tangga, pingin ini-itu banyak sekali (doraemon ‘kaleee), gitu disodorin harga ‘mbelalak… yaela massss… gini “doang” masa segitu mahalnya? Hahaha… makanya sekarang saya ga berani nawar jasa seenak udel, sama-sama ngerasain sih ga enaknya diteken harga ama orang…

Leave a Reply

*
To prove you're a person (not a spam script), type the answer to the math equation shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the equation.
Click to hear an audio file of the anti-spam equation