Kritik? Nyam! Memang paling enak…

“Berapa Mon kalo bikin web kaya www….com ke elu?”

“Hah? Gile… gitu doang segituan? Gaya bener lu… Jadi renternir aja lu!” ngakaklah kami berdua. Meski di balik ngakak itu biasanya ada cibiran sebel. “Monik sekarang belagu,”

Berhadapan dengan teman yang sebel karena budget webnya ga masuk, biasanya emang jadi pendorong kuat untuk sebuah kritik. “Halah, desain elu juga ga bagus-bagus amat. Gue cari di luaran juga dapet ‘kali yang harganya setengah (dari) elu,” Yup, bunyinya macem-macem. Mulai dari yang membangun sampe yang nggerundel belaka.

Padahal kalo bercermin pada harga-harga di luaran, berani yakin harga sangat bersaing. Dan di balik kalimat “ngga mau jatohin harga pasaran para designer” or anything sebagai tanda solidaritas pada para tukang desain, saya rasa saya juga harus menghitung waktu yang ‘dikorbankan’, yang harusnya bisa dipakai bercanda dengan Aurel :)

Saya sendiri menyadari, mengkritik itu emang paling yummy, uenak pol! Salah satunya ya hobi saya mengkritik sinetron :D Belum tentu giliran disuru bikin film, saya bisa bikin yang lebih bagus. Siapa tau malah pelototan dan baku-hantam ala sinetron saya terapkan dengan versi yang lebih norak lagi. Tapi tetepppp, saya ga melihat itu sebagai excuse bahwa orang ga boleh komentar (atau hanya boleh memuji).

Susah? Yoa. Apalagi kalo kita udah punya confidence bahwa bikinan kita adalah yang bagus punya. Bahwa orang lain yang komentar itu jelek berarti ga ngerti apa-apa. Bisakah saya?

Comments

Leave a Reply


(will not be published)


*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word