
Mendengar kabar bahwa satu judul drama Jepang lagi dijiplak, udah ga bikin hati saya panas. Udah kebal, istilahnya. Khas orang Indonesia, yang katanya punya sistem imun luar biasa, mulai dari tahan berbagai penyakit sampai tahan berbagai kondisi. Yang dibilang orang luar “aneh”, buat orang Indonesia biasa-biasa aja. Kalo orang Amrik bisa diare kalo jajan es campur pinggir jalan, orang Indo sih anteng-anteng aja, kalo perlu es campurnya ditambah baso panas super pedes, yang katanya bisa jadi pengganti resep obat pencahar
Kalo orang Jepang bisa bengong ngeliat pegawai di kantor kelurahan baca koran pas jam kerja, orang Indo normal-normal aja menyelipkan duit di balik koran itu supaya si petugas beranjak kembali ke mejanya buat memproses dokumen yang diminta. Lha ada waktu luang kenapa ga dimanfaatkan? Orang laen juga kaya gitu, rugi dong kalo kita ngga? Atau berbagai alasan solidaritas lain… “Ga enak kalo gue sok rajin, tar dikirain gue cari muka ama atasan,” Jangan salah, saya juga gitu kok
Kalo ga kaya gitu, kan ga beradaptasi ama lingkungan
Drama Jepang dengan judul asli Taiyou no Uta, kabarnya sebentar lagi akan tayang di RCTI dengan judul Selamat Jalan Natasha, menyusul drama Jepang Ichi Ritoru no Namida yang sebelumnya sukses dijiplak dengan judul Buku Harian Nayla. Pake soundtrack lagu rohaninya Franky Sihombing, pula. Pemerannya, dua-duanya Chelsea Olivia. Kasian amat tu orang. Apa segitu ga dipercayanya ya sampe-sampe dikasi peran cuma peran jiplakan? Mungkin kualitas aktingnya diragukan banget, so mendingan dikasi peran yang udah pernah diperanin orang laen… dia tinggal nonton aslinya dan peranin kaya gitu. Buat Chelsea, kalo kebetulan mampir blog saya, jangan marah ya… saya cuma ga abis pikir kok bisa-bisanya semua sinetron jiplakan yang saya tahu, dibintanginya ama kamu lagi – kamu lagi.
Lama-lama saya pikir RCTI bukannya kecolongan, tapi emang sengaja meng-hire orang khusus untuk mengadaptasi naskah “sinetron” luar negri ke sinetron Indonesia. Tinggal nyuru orang nonton drama aslinya, lalu tulis ulang dengan dialog yang diubah sedikit-sedikit… Tokyo jadi Jakarta, misalnya. Atau toko tofu jadi toko tahu (Ichi Ritoru no Namida). Oh iya, jangan lupa… ditambah tulisan “kisah ini hanya fiktif belaka”, mengesampingkan fakta bahwa Ichi Ritoru no Namida diangkat dari kisah nyata seorang gadis bernama Aya Kitou yang sekarang sudah meninggal karena penyakit yang dideritanya itu (yang disebut RCTI “hanya fiktif belaka” itu).
Plus? Adegan hiperbolis dong… bukan sinetron namanya, kalau ga ada klimaksnya. Di mana-mana sebuah cerita harus ada klimaks! Saya inget pernah membaca hal semacam itu dari buku “Belajar Mengarang”, atau salah satu tulisan Arswendo Atmowiloto yang saya kagumi sebagai salah satu penulis Indonesia yang oke… tapi setelah nonton drama-drama Jepang, saya sepakat bahwa sebuah cerita ga perlu terlalu dilebih-lebihkan untuk sebuah klimaks. Bahkan sebuah cerita yang klimaksnya “gitu-gitu aja” bisa jadi jauh lebih bernilai dan mengena daripada sebuah kisah yang klimaksnya berupa solusi mudah: entah salah satu tokoh jahatnya dibuat mati mengenaskan atau bertobat dan mohon maaf pada si tokoh utama.
Nonton Buku Harian Nayla, bergidik bo. Maaf deh buat yang bikin. Soalnya di Ichi Ritoru no Namida asli, love story antara Aya dan Haruto dibuat begitu lembut dan halus, nyaris ga dominan. Bahkan pas akhir-akhir, penonton dibuat penasaran dengan Haruto yang tidak dikisahkan lanjutannya setelah Aya meninggal. Dan sangat manusiawi, konflik bahwa orang tua Haruto berat anaknya dekat dengan seorang gadis yang ada di ujung kematian.
Di Buku Harian Nayla? Ada adegan pernikahan antara Nayla dan… siapa cowonya itu? I even don’t want to remember the name (or the face!). Dan klimaksnya lagi? Nayla meninggal di hari pernikahannya… Dramatis sekali, bukan? Dunno, tapi saya sama sekali ga tersentuh tuh ama cerita model begitu. Opera sabun banget! Bukannya nangis, malah merinding. Geli. Kejadian seperti itu mungkin terjadi, tapi kayanya cuma 1 di antara 100? Bahkan 1 di antara 1000. Yang jelas selama saya hidup, ga pernah denger yang kaya gitu. Kalau tragedi orang ditinggal mati dalam kecelakaan pesawat padahal bulan depannya akan menikah, ya sering… itupun lantaran TV dan media seneng banget meng-highlight hal-hal semacam itu. Orang kita seneng tragedi sih ya. Makin tragis, makin menarik.
Bakal jadi apa ya Taiyou no Uta ala Indonesia ini? Di kisah aslinya, si cewe menderita penyakit XP, dimana dia ga bisa keluar pagi dan siang hari karena sengatan cahaya matahari selembut apapun bisa membuat kulitnya terbakar. Tapi karena impiannya yang besar untuk menjadi penyanyi, setiap malam sampai subuh dia bela-belain pergi keluar rumah, meski hanya jadi penyanyi jalanan. Kalo sampe Selamat Jalan Natasha bikin cerita kaya gitu… Wah, luar biasa. Ga pake logika deh, hari gini ada cewe cantik muda belia keluyuran sendirian subuh-subuh di pinggir jalan kota Jakarta?
Apa jadinya ya? Yang rela nonton, boleh deh kabari saya… Can’t wait!